Migrasinya suku Madura ke wilayah Tapal Kuda dengan membawa budayanya yaitu budaya pendhalungan yaitu perpaduan budaya Madura dan Jawa. Jaran Kencak sebagai salah satu kesenian yang berkembang dari budaya pendhalungan tersebut di Kabupaten Lumajang selama 5 generasi hingga sekarang.
   Menurut Ketua Komunitas diyakini seniman Jaran Kencak, orang yang pertama kali menciptakan kesenian ini bernama Klabisajeh, seorang pertapa suci yang tinggal di lereng Gunung Lemongan. Berkat kesaktiannya Klabisajeh bias membuat kuda liar tunduk jinak dan pandai menari sehingga jadilah Jharan Kencak; Jharan artinya Kuda, Kencak artinya Menari.

     Tahun 1934 Jaran Kencak Seni Pertunjukan yang diadakan pemerintah Belanda saat itu untuk menyambut Pejabat Belanda yang berkunjung ke Lumajang di daerah Dampar yang sekarang menjadi wilayah Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. (Dok.TROPEN MUSEUM, 1934).
   Pada masa Kolonial seni pertunjukan jaran Kencak ini mengalami pasang surut Karena ada larangan –larangan melakukan kegiatan kesenian pada masa kolonialime Belanda sampai Jepang. Baru pada tahun 1949 mulai dikembangkan Seni Pertunjukan Jaran Kencak manten, seorang warga Desa Kalipepe menciptakan karya Seni Budaya Pendalungan berbentuk arak-arakan kuda, dihiasdengankain (Dikemuli) dan diiringi oleh music kenong telok.  
   

WhatsApp Image 2022-06-14 at 19.27.39.jpeg

Kesenian tersebut mengelilingi Desa Kalipepe untuk menghibur masyarakat yang pada saat itu sedang merasa tertekan dan  ketakutan karena situasi serta kondisi daerah Lumajang yang masih dalam kekuasaan NICA. Pada akhir Tahun 1960 kesenian Jaran Kencak mengalami perkembangan sangat pesat, baik pada hiasan kudanya maupun penambahan personilnya, dengan urutan karakan sebagai berikut : Penari Kopiah terdepan berbentuk Jaran Bodak atau disebut juga Jaran Slining, dibelakangnya penganten yang duduk di kuade Jaran Kencak manten, dan paling belakang iringan musiknya. Sejak Tahun 1963 hingga sekarang pergelaran Jaran Kencak mulai tampak dan sering diminta tampil pada acara hajatan.
   Sejak tahun 2012 setiap Bulan Desember setiap satu Tahun sekali kesenian Jaran Kencak di Festivalkan di Kabupaten Lumajang mengawali Hari Jadi Kabupaten Lumajang, dan  Tahun 2015 dipatenkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lumajang sebagai Icon Kesenian Lumajang. 

LandasanTeori.
Temuan Relief Kuda pada Candi di Dusun Kedungsari, Desa Kedungmoro, Kecamatan Kunir menguatkan bahwa kuda merupakan hewan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Lumajang. Selain untuk kebutuhan hidup sehari-hari karena masyarakat Lumajang yang mayoritas sebagai petani dengan pengahasilan utama dari pertanian, selain itu juga menjadi sarana untuk seni pertunjukan dan perhelatan. Kuda dalam berbagai kebudayaan dianggap sebagai symbol kebebasan, kecerdasan, dan kekuatan.

Deskripsi.
Dalam kesenian Jharan Kencak ada dua jenis pakaian kuda :
(a).Kuda Raja / Kuda Perang / Kuda Atraksi/ Jharan Manjhêng / Jharan Ade’ adalah Pakaian kuda ini simple sebagaimana layaknya kuda perang. Biasanya pakaian kuda ini terdiri pelindung kepala, pelindung tubuh, aksesoris serta gongseng atau Bel Kuda atau kerincingan.  Pakaian Jharan Kencak ini pada umumnya terbuat dari bahan kain yang dibordir dan diberi manik-manik, juga ada yang terbuat dari bahan kulit dan kuningan. Jharan Kencak  Atraksi melakukan beragam jenis gerak, seperti berdiri dengan dua kaki, member kan hormat kepada penonton, duduk sambil berputar, tiduran, bercengkrama dengan pawangnya dan lain-lain. Sedangkan pawang dari Jharan Kencak jenis ini biasanya menari-nari seirama dengan kudanya sambil “Ngejhung” alias menyanyi atau melantun kan kidungan dalam bahasa Madura.
(b).Kuda Ratu / Kuda Kemanten / Kuda Tumpang / Jharan Ngarak / Jharan Budih adalah Pakaian kuda ini dilengkapi oleh pelana yang lengkap dengan penutup samping, belakang, dan depan serta aksesoris penutup kepala juga tubuh hingga yang terlihat hanya sedikit bagian dari kepala dan sedikit bagian dari kaki saja. Di bagian belakangnya dihiasi dengan bulu merak yang menambah kesan mewah dari penampilan kuda ini.  Pakaian Jharan Kencak jenis ini terbuat dari bahan Fiber Glass, tapi ada juga yang terbuat dari bahan Armola tau Kulit Sapi. Sedang kan untuk aksesorisnya terbuat dari kain yang dibordir dan diberi manik-manik serta pernak-pernik lain dari beragam bahan yang ada di sekitar kabupaten Lumajang. Jharan Kencak jenis ini memang tidak melakukan atraksi gerakan apapun selain hanya menggerakkan kaki secara teratur keatas kebawah, serta berjalan pelan mengikuti rombongan dan sekelompok penabuh gamelan yang mengikuti di belakangnya. Adapun pawing dari Jharan Kencak jenis ini sambil menuntun kudanya, dia juga melakukan Tari Kũplũk / Peci. Si Pawang melakukan atraksi gerak tari yang sederhana sambil menggerak-gerakkan Kũplũk atau Pecinya dengan cepat. Yang membuat orang kagum dengan Tari Kũplũ kini adalah karena meskipun digerak-gerakkan dengan cepat tapi Kũplũk sang Pawang tidak jatuh meskipun tidak diikat dengan tali. Tarian Kũplũk ini kemudian menjadi unik dan lucu untuk dinikamati oleh masyarakat. Jharan Kencak jenis Ratu ini memang dirancang khusus untuk ditunggangi. Di masyarakat Lumajang biasanya yang boleh menunggangi kuda jenis ini adalah anak kecil yang baru dikhitan / disunat.Tapi pada perkembangannya saat ini semua anak-anak boleh menungganginya dengan dirias layaknya pangeran atau puteri kecil. Mereka diajak keliling kampung, dan sekaligus mendatangi tokoh-tokoh desa setempat terutama Kepala Desa untuk sekedar meminta restu atas telah dikhitannya anak tersebut.
Secara umum pakaian Jharan Kencak menggunakan motif Naga dan motif ukiran khas Madura seperti, Ukêl, Sulur Pakis, Banyu Mili dan lain-lain. Motif Naga memang dominan dalam pakaian Jharan Kencak. Adapun jenis motif naga yang digunakan mayoritas menggunakan jenis naga Antaboga yang dilengkapi dengan Kũlũk dan Jēbēan. Dari segi pewarnaan juga banyak menggunakan warna emas karena latar belakang sejarahnya Lumajang sebagai kerajaan. Selain warna emas juga dominan warna khas Madura yakni perpaduan warna Merah, Biru, Hijau, Hitam dan Putih.
Sampai saat ini, kesenian Jharan Kencak masih banyak diminati oleh masyarakat, khususnya untuk hajatan perkawinan dan sunatan. Biasanya masyarakat yang “nanggap” atau meng-order kesenian Jharan Kencak ini minimal menggunakan 3 ekor kuda, yang terdiri dari 1 ekor Kuda Raja, dan 2 ekor Kuda Ratu. Tapi ada juga yang menggunakan hingga 100 ekor kuda sekaligus, tergantung status social dan status ekonomi dari orang yang punya hajatan tersebut.
Selain itu, kesenian ini dilengkapi dengan kelompok penabuh gamelan yang mengiringi rombongan Jharan Kencak saat melakukan performance-nya. Biasanya gamelan Jharan Kencak terdiri dari 2 orang penabuh Kendang, 3 orang penabuh Kenong / Bonang, 1 orang penabuh Gong beserta 2 orang yang membantu memikul Gong-nya, dan yang terakhir adalah 1 orang peniup Saronen (terompet khas Madura yang terbuat dari kayu). Mereka menabuh sambil berjalan kaki mengelilingi kampung dan terakhir menabuh dalam kondisi parkir di  lokasi hajatan.
Biasanya kalau untuk hajatan apapun, kesenian Jharan Kencak ini memulai performance-nya pada sekitar jam 10.00 – 22.00. Secara umum performance Jharan Kencak untuk hajatan ada dua sessi, yakni “Main Siang” dan “Main Malam”. Untuk sessi Main Siang biasanya setelah main di lokasi hajatan mulai jam 10.00 wib, kemudian pengantinnya dibawa keliling kampong hingga sore hari sekitar jam 17.00. Setelah itu mereka istirahat sebentar sambil mempersiapkan sessi Main Malam.Nanti sekitar jam 19.00 mereka melakukan performance lagi di lokasi hajatan (di dalam terop) hingga sekitar jam 22.00. Khusus untuk performance pada malam hari, pakaian Jharan Kencak ditambahi dengan pernak-pernik lampu hias sehingga tampilan kostum Jharan Kencak menjadi lebih meriah dan penuh dengan warna.
Penyebaran jenis kesenian Jharan Kencak di Kabupaten Lumajang menyebar di 21 kecamatan yang ada di Lumajang. Penyebaran terbesar ada  di kawasan Lumajang bagian utara tepatnya kecamatan Ranuyoso, Klakah, Kedungjajang dan Randuagung. Hal ini mungkin disebabkan karena jenis kesenian ini memang lahir di kawasan ini. Penyebaran terbesar kedua ada di Lumajang bagian selatan yakni di kecamatan Kunir, Tukum dan Yosowilangun.
Adapun tarif untuk nanggap atau mengundang kesenian Jharan Kencak ini cukup beragam. Tapi kalau dibuat rata-rata, khusus untuk di dalam Kabupaten Lumajang sendiri tarifnya berkisar Rp. 1.000.000,- per ekor kuda. Sedangkan untuk luar kota bergantung pada jarak dan alokasi waktu yang mereka butuh kan selama dalam perjalanan.